Pakar Politik: Politik Uang, Indonesia Peringkat 3 Sedunia

Ciputat, PPIM – “Indonesia berada di peringkat ketiga sedunia dalam hal banyaknya praktik politik uang (buying voters) saat pemilihan umum. Indonesia hanya kalah dari Uganda dan Benin”, demikian ungkap Burhanuddin Muhtadi dalam PPIM Seminar Seri Ke-33 di Ciputat, Tangerang Selatan (11/10).

Meski praktik ini marak terjadi di Indonesia, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia ini menyatakan bahwa studi akademik yang mengangkat isu ini masih sangat minim. Kebanyakan studi-studi akademik yang sistematik terkait politik uang di negara-negara penganut faham demokrasi hanya merujuk pada pengalaman yang terjadi di Eropa dan Amerika.

Burhan menambahkan bahwa meskipun Indonesia dianggap berhasil dalam mengawal proses transisi demokrasi, namun sampai saat ini demokrasi Indonesia dinilai belum terkonsolidasi dengan baik. Salah satu isu penting yang mempengaruhi perjalanan demokrasi Indonesia adalah praktik politik uang. Praktik ini menjadikan pemilih kehilangan mandat demokratisnya untuk mengawasi dan mengevaluasi kanditat yang terpilih. Padahal, demokrasi yang berkualitas pemilih mempunyai hak akuntabilitas dalam mengawasi dan mengevaluasi kandidat yang terpilih.

Pemilih yang paling rentan disasar politik uang adalah mereka yang memiliki kedekatan terhadap partai (party ID). Pemilih-pemilih loyal tersebut ditarget sebagai strategi mobilisasi partisipasi oleh kandidat. Namun alih-alih menarget pemilih partisan yang loyal terhadap partai, politik uang justeru lebih banyak menyasar pemilih non-partisan (swing voter).

“Saya berargumen bahwa kandidat dan tim sukses sebenarnya bermaksud menyasar pemilih partisan, tapi secara faktual mereka justru mendistribusikan logistiknya ke pemilih yang terkoneksi dengan jaringan-jaringan personal (personal networks)”, papar Dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Burhan juga menunjukkan fakta bahwa pengaruh politik uang terhadap hasil pemilu relatif kecil, yaitu sekitar 10 persen. Namun jumlah tersebutlah dianggap sebagai penentu kemenangan kandidat. Karena menurutnya, rata-rata kemenangan bagi kandidat dalam satu partai (margin winning) yang berkompetisi hanya antara 1.4 sampai 2.24 persen. Inilah mengapa politik uang dipakai sebagai upaya mengejar margin winning. Politik uang dinilai sebagai strategi terakhir dan utama dalam memaksimalkan suara pemilih dalam memperoleh winning margin tersebut.

PPIM Seminar merupakan diskusi rutin yang mengungkap penelitian-penelitian terbaru dalam kajian sosial. Diskusi Seri Ke-33 ini dihadiri oleh Direktur Eksekutif dan Dewan Penasehat PPIM UIN Jakarta yaitu Dr. Saiful Umam dan Prof. Dr. Jamhari Makruf.. Selain itu, peserta diskusi juga hadir dari berbagai kalangan seperti dosen, mahasiswa, dan peneliti. [RGA/MNF]