Tiga Hal Ini Disebut Membentuk Wajah Islam Di Indonesia

TANGSEL-Islam di Indonesia merupakan perpaduan antara fiqih Syafi’iyah, teologi Asy’ariyah-Maturidiyah, dan sufisme al-Ghazali dengan menghargai kebudayaan setempat.

“Perjumpaan itu menghasilkan keragaman praktek keagamaan yang hingga kini masih terpelihara dengan baik,” kata Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, Saiful Umam, Kamis (22/10/2015).


Menurutnya, jalur kultural dan toleran yang menjadikan Islam menyatu dengan kebudayaan setempat yang berlaku hingga sekarang dan seterusnya.

Sebab, Islam dan kebudayaan setempat menjadi nafas baru kebudayaan yang kemudian menjadikan semangat Jawanisasi Islam dan Islamisasi Jawa dapat berjalan dengan damai.

Dia mengemukakan hal itu dalam seminar bertajuk Menanamkan nilai-nilai Islam nusantara demi menangkal gerakan radikalisme agama yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta.

Sementara itu M. Romahurmuziy MT, Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, mengatakan Islam masuk ke Indonesia melalui jalur kultural, bukan militer, seperti perdagangan, seni budaya, dakwah, pernikahan dan politik.

Semua jalur tersebut ditempuh dengan pendekatan damai yang menjunjung nilai toleransi. Hal inilah, yang menjadikan spirit Islam Nusantara adalah praktik keislaman yang moderat, toleran, kontekstual, dan adaptatif.

Dia menjelaskan dalam situs resmi UIN Jakarta bahwa spirit yang demikian itu belakangan mulai dinodai dengan munculnya arus radikalisme keagamaan yang muncul dari kawasan Timur Tengah.

“Tekstualisme pemaknaan ajaran agama, romantisme khilafah, ketegangan sosial politik, dan kesenjangan ekonomi di sebagian besar masyarakat Muslim menjadi faktor kemunculan radikalisme keagaman,” ujarnya.