Guru Terpapar Intoleransi, Bagaimana Nasib Keragaman Kita?

Belakangan ini, kasus-kasus radikalisme dan intoleransi menjadi salah satu isu penting di Indonesia. Pada 13-14 Mei 2018, kita dikagetkan dengan rangkaian pengeboman di tiga rumah ibadah di Surabaya. Tidak sampai di situ, di Probolinggo terjadi peristiwa pawai siswa Taman Kanak-Kanak (TK) yang mengenakan cadar dan membawa replika senjata api. Kasus terakhir ini memperlihatkan bahwa radikalisme dan intoleransi sudah masuk ke dalam dunia pendidikan.

Merespons masalah di atas, pada 20 Desember 2018, PPIM UIN Jakarta menyelenggarakan diskusi rutin dengan mengangkat tema “Sudahkan Meyakini dan Menghargai? Potret Keberagamaan Guru di Indonesia”. Hadir sebagai pemateri Dr. Yunita Faela Nisa, peneliti PPIM sekaligus dosen Fakultas Psikologi UIN Jakarta. Diskusi ini dihadiri oleh sejumlah peneliti, mahasiswa, dan dosen dari berbagai lembaga.

Turut hadir pula Yusuf Rahman, Ph.D, Peneliti PPIM UIN Jakarta. Dalam sambutannya, Yusuf mengatakan bahwa PPIM Seminar kali ini merupakan seri ke-34. Dia melanjutkan “kami mengundang Ibu Yunita untuk memaparkan hasil survei PPIM tentang sikap keberagamaan guru di Indonesia yang sudah diadakan dua kali, yaitu pada 2017 dan 2018. Tema ini diharapkan bermanfaat bagi komunitas akademik di lingkungan UIN Jakarta atau masyarakat luas yang sedang meneliti isu-isu radikalisme dan intoleransi dalam pendidikan” ujar dosen Fakultas Ushuluddin tersebut.

Narasumber diskusi, Yunita Faela Nisa, membuka paparannya dengan menjelaskan latar dari tema diskusi yang bermula dari survei PPIM ini. Yunita menyatakan bahwa survei ini berangkat dari fenomena mengerasnya sikap keberagamaan masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Ekspresi keberagamaan demikian juga menunjukkan menguatnya konservatisme agama. Selain itu, survei PPIM tahun 2017 memperlihatkan bahwa siswa mendiskusikan masalah keagamaan tidak hanya dengan guru agama, namun dengan guru mata pelajaran lainnya. Diskusi ini mengulas pertanyaan ada apa dengan kayakinan keislaman guru, dan bagaimana pengaruhnya terhadap sikap menghargai guru?

Dalam diskusi ini, Yunita fokus pada “pandangan islamis” dan “toleransi terhadap pemeluk agama lain” sebagai dua variabel untuk melihat sikap keberagamaan guru. Pandangan islamis didefinisikan sebagai pandangan keagamaan yang absolutis, tertutup, inward looking dan eksklusif dalam merespons perkembangan ilmu pengetahuan yang bukan bersumber dari Islam. Sedangkan toleransi antar umat beragama didefinisikan sebagai kesediaan untuk mempersilakan non-Muslim mengekspresikan ide/kepentingan mereka di publik.

Temuan survei menunjukkan bahwa guru cenderung memiliki pandangan keagamaan yang Islamis. 82,77% guru setuju dengan pernyataan bahwa Islam adalah satu-satunya solusi untuk mengatasi segala persoalan masyarakat. Sebanyak 75,98% guru juga setuju pemerintah harus memberlakukan syariat Islam bagi para pemeluknya.

Sikap toleransi guru terhadap umat non-Muslim juga dinilai mengkhawatirkan. Pada level sikap, hanya 45% guru menyatakan setuju jika non-Muslim mendirikan rumah ibadah mereka di lingkungan mereka tinggal. Sebagian besar mereka tidak setuju dengan pendirian rumah ibadah umat agama lain di lingkungan mereka. Kemudian, 56% guru juga tidak setuju jika non-Muslim mendirikan sekolah berbasis agama di sekitar mereka tinggal.

Toleransi guru juga dilihat dari level intensi (keinginan untuk melakukan) mereka terkait hubungan dengan non-Muslim. 34% guru mengaku ingin menandatangani petisi menolak pendirian sekolah berbasis agama non-Muslim di sekitar rumah mereka. Lebih jauh, sebanyak 28% guru menyatakan tidak ingin memberikan ucapan selamat natal kepada umat Kristen, atau ucapan selamat hari raya lainnya bagi non-Muslim.

Yunita menyatakan, internet menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk keberagamaan guru. Internet atau sosial media merupakan instrumen yang instan dalam memperoleh pengetahuan keagamaan. Menurut Yunita “tentu bahan di dalam internet untuk memperkaya pengetahuan tentang agama banyak yang positif, yaitu inklusif, toleran, dan moderat. Namun, banyak juga sumber pengetahuan yang bersumber dari dunia maya ini mengandung muatan-muatan yang intoleran, radikal, dan eksklusif”, yang terakhir ini yang berbahaya bagi keragaman bangsa jika guru terpapar sikap keberagamaan demikian, ujarnya.

Terakhir, Yunita menjelaskan bahwa “hasil temuan survei ini memperlihatkan bahwa identitas keislaman masyarakat Muslim sangat kuat. Kondisi ini sangat mudah terjadinya konflik sosial berbasis agama. Kasus Ahok pada 2017 dan demo umat Islam akhir-akhir ini memperlihatkan bagaimana emosi umat Islam mudah tersulut jika identitas keislaman mereka terganggu. Kalau kita tidak memperkuat toleransi guru, akan sulit untuk merawat keragaman Indonesia. Karena gurulah yang bersentuhan langsung dengan siswa di kelas”. [MNF/RGA]