Riset terbaru: Ulama Banten, Cirebon dan Aceh sangat berpengaruh di Filipina Selatan

PPIM, Jakarta (11/12/2019) - Sejak abad ke-19 Masehi, para ulama dari Banten, Cirebon dan Aceh bisa dilacak pengaruhnya hingga ke wilayah Mindanao, Filipina Selatan. Demikian salah satu kesimpulan dari riset terbaru Prof. Dr. Oman Fathurahman, peneliti senior PPIM dan Guru Besar Filologi dan Sejarah UIN Jakarta yang terbit di Jurnal Indonesia and the Malay World (Routlege, Taylor & Francis Group, London 2019), sebuah jurnal internasional terkemuka yang berbasis di Inggris.

Lewat penelitian khazanah manuskrip Melayu Nusantara di Mindanao, Oman Fathurahman berhasil menelusuri jaringan ulama Nusantara dan jejak-jejak pengaruhnya hingga ke Asia Tenggara. Misalnya, naskah-naskah keagamaan yang ia temukan di kawasan Lanao, di kepulauan Minadanao, menunjukkan bahwa pemikiran keagamaan Muslim di Filipina Selatan abad ke- 19 M banyak terinspirasi oleh pemikiran ulama-ulama Nusantara abad ke-17 dan 18 Masehi. Hal itu diperkuat dengan munculnya jaringan tarekat Syattariyah, yang semakin mempererat jalinan hubungan para ulamanya. Jadi, menurut Oman, Indonesia punya alasan kuat mengklaim sebagai pusat peradaban Islam Nusantara.

Fakta ini bukan hanya menegaskan peran penting para ulama dalam pengembangan tradisi intelektual di wilayah Nusantara saja, melainkan juga dinamika perkembangan gerakan sosial keagamaan di Asia Tenggara.

Dalam risetnya di Lanao, Mindanao, Prof. Oman Fathurahman, yang juga merupakan Staf Ahli Menteri Agama RI ini, berhasil mendapatkan kepercayaan untuk mengkaji teks-teks hasil karya ulama Maranao, seperti Aleem Ulomuddin Said. Ia mewarisi naskah-naskah penting dalam bahasa Arab, Melayu dan Maranao ini dari sang ayah, Sheikh Muhammad Said bin Imam sa Bayang (1904-1974).

Oman berhasil menunjukkan bukti adanya hubungan yang dekat antara berbagai ulama di Nusantara dengan Filipina Selatan, di tengah-tengah terbatasnya pengetahuan kita tentang Islam di Mindanao pada abad ke-19 M. Ternyata, lewat peran ulama-ulamanya, Filipina Selatan sejak tiga abad silam sudah memiliki hubungan yang erat dengan wilayah lain di dunia Islam, khususnya Banten, Cirebon dan Aceh. Penelitian seperti yang ia lakukan sangat penting kontribusinya bagi pemahaman Kira mengenai sejarah dan peradaban Islam Nusantara. Dalam beberapa tahun terakhir, PPIM bergiat melakukan berbagai kajian khazanah teks keagamaan di Asia Tenggara [DAD].

Bagi yang berminat, artikel tersebut dapat diakses di tautan di bawah ini:


https://www.tandfonline.com/eprint/ETyMRP9fuPZ5Bq2j78mb/full?target=10.1080%2F13639811.2019.1568753&